TEKNOLOGI BUDIDAYA PANGAN LOKAL (SORGUM)

TEKNOLOGI BUDIDAYA PANGAN LOKAL (SORGUM)

  1. PENDAHULUAN

        Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman sejenis biji-bijian atau serealia yang berasal dari negara Afrika. Tanaman ini sudah lama dikenal  sebagai penghasil pangan dan dibudidayakan di daerah kering seperti di Afrika. Dari benua Afrika kemudian menyebar luas ke daerah tropis dan subtropis termasuk di Indonesia. Tanaman ini memiliki adaptasi yang luas, toleran terhadap kekeringan sehingga sorgum menyebar di seluruh dunia. Negara penghasil utama sorgum adalah Amerika, Argentina, China, India, Nigeria, dan beberapa negara Afrika Timur, Yaman dan Australia. Untuk Indonesia sendiri, tanaman sorghum juga menyebar dengan cepat sebab iklimnya yang sangat cocok untuk pembudidayaannya (Anonim, 2010).

       Buah sorgum merupakan biji-biji yang tertutup oleh kulit yang liat dan berwarna kekuning-kuningan atau kecoklat-cokelatan. Warna bijinya bervariasi yaitu cokelat muda, putih dan putih buram. Bentuknya juga bermacam-macam, ada yang agak bulat, ada juga yang agak pipih. Berat bijinya adalah 0,45 kg. Biji sorghum sifatnya ada yang keras dan ada yang lunak dengan endosperm berwarna putih. Akar sorghum adalah akar serabut, akar lateral yang halus letaknya agak ke dalam dengan ruang lingkup akar sedalam 1,35-1,8 m, panjang 10,8 m, akar tunjangannya cukup banyak dan keluar dari hampir setiap buku-buku atau ruas-ruas.

            Tanaman sorgum mempunyai keunggulan yang tak kalah dengan tanaman pangan lain seperti : daya adaptasi luas, tahan terhadap kekeringan, dapat diratun, dan sangat cocok dikembangkan di daerah marginal. Seluruh bagian tanaman mempunyai nilai ekonomis. Selain budidaya yang mudah, sorgum juga mempunyai manfaat yang sangat luas antara lain untuk pakan ternak, bahan baku industri makanan dan minuman, bahan baku untuk media jamur merang (mushroom), industri alkohol, bahan baku etanol dan sebagainya. Tanaman sorgum dapat berproduksi walaupun dibudidayakan dilahan kurang subur, air yang terbatas dan masukan (input) yang rendah, bahkan di lahan berpasirpun sorgum dapat dibudidayakan. Namun apabila ditanam pada daerah yang berketinggian di atas 500 m dpl tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhanya dan memiliki umur yang panjang. Tanaman sorgum sebenarnya sudah lama dikenal dan sudah banyak ditanam petani di Indonesia. Namun tampaknya, tanaman ini kurang berkembang dengan baik. Pengembangan jenis tanaman pangan ini akan dapat berhasil apabila dikelola dengan baik.

 

  1. PENYIAPAN LAHAN  DAN   PENGOLAHAN  TANAH

 

Pengolahan tanah paling baik dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam. Langkah-langkahnya :

  1. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, kemudian dicangkul atau dibajak 2 kali setelah itu digaru dan diratakan.
  2. Dibuat saluran drainase disekeliling atau ditengah lahan. Untuk lahan yang hanya mengandalkan residu air tanah, pengolahan dilakukan secara ringan dengan mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan gulma. Pengolahan tanah secara ringan sangat efektif untuk manghambat penguapan air tanah sampai tanaman panen.
  3. Tanah yang sudah diolah sebaiknya diberi pupuk organik, misalnya pupuk kandang atau kompos.

Pengolahan tanah ini bertujuan antara lain untuk memperbaiki struktur tanah, memperbesar persediaan air, mempercepat pelapukan, meratakan tanah dan memberantas gulma.

 

III.  PEMILIHAN  VARIETAS


      Varietas unggul yang dianjurkan untuk ditanam harus memeperhatikan kegunaan dan lingkungan tumbuhnya. Untuk keperluan konsumsi pangan manusia (pangan) varietas yang dianjurkan antara lain UPCA SI, Keris, Badik dan Hegari Genjah. Karena varietas ini mempunyai keunggulan berumur genjah, tinggi batang sedang, berbiji putih dengan rasa sebagai nasi cukup enak. Varetas Numbu dan Kawali yang dilepas tahun 2001 juga mempunyai rasa olah sebagai nasi cukup enak, namun umurnya relatif lebih panjang. Sedangkan untuk pakan ternak dipilih varietas sorgum yang tahan hama dan penyakit, tahan rebah, tahan disimpan dan dapat diratun. Pada lingkungan yang ketersediaan airnya terbatas dan masa tanam yang singkat dipilih varietas-varietas umur genjah seperti Keris, Badik, Lokal Muneng dan Hegari Genjah. Ditinjau dari segi hasil, varietas umur genjah memang hasilnya jauh lebih rendah daripada varietas umur sedang atau dalam, tetapi keistimewaannya dapat segera dipanen, menyelamatkan dari resiko kegagalan hasil akibat kekeringan.

 

  1. PENANAMAN

       Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Namun, waktu tanam yang baik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Kebutuhan benih untuk bertanam sorgum berkisar 10 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 20 cm  atau 60 cm x 20 cm tergantung tingkat kesuburan tanah. Menanam sorgum dapat dilakukan dengan cara ditugal seperti halnya menanam jagung, bila jaraknya tidak terlalu rapat. Lubang tanam diisi sekitar 3-5 biji benih, kemudian ditutup dengan tanah ringan. Pada saat tanam, dibuat juga lubang pupuk dengan tugal sejauh 15 cm dari lubang tanam.

  • Penting untuk diingat dan dapat  dicoba/ dipraktekan/ diterapkan di kebun sorgum:

Untuk  dapat  memastikan bahwa:  semua benih  sorgum yang akan ditanamkan ke dalam setiap lubang tanam agar dapat tumbuh 100 %, maka perlu terlebih dahulu kita melakukan suatu perlakuan terhadap benih sorgum yang akan ditanam tersebut (Sesuai Hasil Uji Coba  yang dilakukan oleh  Penyuluh Pertanian di BPP Rin Lema Kecamatan Lewolema  An. Bernardus  B. Koten, SST. dan  Hiren  Lima  Hekin  Krispinus, SST. pada  musim tanam  2015/2016). Cara memperlakukan benih sorgum tersebut adalah  sebagai  berikut:

  • Benih sorgum direndam dalam air leding/ PDAM dingin (bukan air yang dimasak/air panas dan juga  bukan air sumur yang rasa agak asin atau  sedikit mengandung belerang); benih yang terapung diambil untuk konsumsi atau pakan ternak dan yang tenggelam direndam selama  + 24  jam dalam ember atau wadah yang tertutup.
  • Setelah +  24 jam  air dalam wadah tersebut dibuang/ ditiriskan sampai habis, kemudian

     Diperam  selama  + 24  jam lagi dalam ember atau wadah yang tertutup (wadah yang sama untuk perendaman tadi).

  • Setelah +  24 jam  benih sorgum dalam wadah tersebut sudah berkecambah (namun tidak 100 %).  Ambil benih sorgum yang sudah berkecambah tersebut untuk ditanam dan akan tumbuh 100 %. Benih sorgum yang telah berkecambah tersebut masih dapat dapat bertahan sebagai bibit kecambah yang baik selama 3 hari, walaupun daya tumbuh dan kecepatan tumbuhnya akan lebih baik jika ditanam habis pada hari pertama.
  • Perlakuan khusus   (Perendaman  dan pemeraman benih sorgum berkecambah ini), dapat dilakukan bila kondisi lahan yang akan ditanami sorgum tersebut harus  dalam keadaan lembab atau hujan; namun bila keadaan lahannya kering atau panas terik maka jangan diterapkan metode ini, karena setelah benih benih sorgum berkecambah ini ditanam dalam keadaan lahan yang kering, kemungkinan besar benih berkecambah tersebut akan kering dan mati (tidak tumbuh).
  • Demikian juga dalam menerapkan perlakuan terhadap benih sorgum sebagai benih berkecambah ini, jumlah benih sorgum harus disesuaikan dengan jumlah dan kemampuan tenaga kerja yang akan menanamnya nanti, agar setelah benih sorgum ini berkecambah harus ditanam habis paling lambat hari ketiga, karena setelah hari ketiga benih sorgum berkecambah tersebut sudah terlalu panjang  dan sangat mempengaruhi pertumbuhannya yang lambat dan resiko matinya sangat tinggi setelah dilakukan penanaman.  Selamat mencoba.

 

  1. PEMUPUKAN

Sebaiknya pemupukan diberikan secara lengkap (NPK) agar produksi yang dihasilkan cukup tinggi. Dosis pemupukan yang diberikan berbeda-beda tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan  varietas yang ditanam, tetapi secara umum dosis yang dianjurkan adalah 200 kg urea, 100 kg TSP atau SP36 san 50 kg KCL. Pemberian pupuk Urea diberikan dua kali, yaitu 1/3 bagian diberikan pada waktu tanam sebagai pupuk dasar bersama-sama pemberian pupuk TSP/SP36 dan KCL. Sisanya (2/3 bagian) diberikan setelah umur satu bulan setelah tanam. Pemupukan dasar dilakukan saat tanam dengan cara ditugal sejauh 7 cm dari lubang tanam, sedangkan KCL dalam lubang di sisi yang lain. Pemupukan kedua juga ditugal sejauh ± 15 cm dari barisan, kemudian ditutup dengan tanah. Lubang tugal baik untuk pupuk dasar maupun susulan sedalam ± 10 cm. Namun lebih dianjurkan menggunakan pupuk organik baik padat maupun cair dan diberikan sesuai dengan anjuran teknis atas petunjuk penyuluh pertanian lapangan.

 

  1. PEMELIHARAAN

              Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman sorgum setelah ditanaman antara lain :

Pengairan. Walaupun tanaman tahan terhadap kekeringan, namun pada fase awal pertumbuhan membutuhkan air yang cukup.

Penjarangan Tanaman. Tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam dilakukan penjarangan agar diperoleh tanaman sorgum yang tumbuh subur dan berproduksi tinggi. Caranya, dengan mencabut  tanaman  yang  kurang  baik dalam rumpun  dan hanya disisakan 2 (dua)  tanaman  dalam  1 (satu)  rumpun untuk dipelihara hingga panen.

 Penyiangan. Penyiangan dilakukan dengan mencabut tumbuhan pengganggu (gulma) hingga perakarannya secara hati-hati, agar tidak mengganggu perakaran tanaman utama. Gulma yang telah dicabut sebaiknya ditampung atau dikubur disuatu tempat agar membusuk sehingga kemudian dapat dijadikan kompos.

Pembubunan. Pembubunan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah disekitar tanaman sorgum, kemudian menimbunkan tanah tersebut pada pangkal batang tanaman sorgum sehingga membentuk gundukan-gundukan kecil yang bertujuan untuk mengokohkan batang tanaman agar tidak mudah rebah dan merangsang terbentuknya  akar - akar baru  pada pangkal batang.

VII.  HAMA  DAN  PENYAKIT  SERTA   CARA  PENGENDALIANNYA.

  1.  Colletortichum gramini colum (Ces.) G.W. Wild (Penyakit Bercak Daun) Penyakit ini menyebabkan bercak pada daun dengan warna kemerah-merahan atau keungu-unguan dan menyebabkan busuk merah pada batang dimana jaringan bagian dalam buku berair dan berubah warnanya. Penyakit ini menyebar secara luas. Bercak daun mengakibatkan daun mengering, karena itu butir menjadi hampa, sementara busuk merah menyebabkan batang berair dan patah.
  2. Helmithosporium turcicum Pass (Penyakit Blight). Penyakit ini menyerang sorgum secara luas,terutama pada kondisi yang lembab. Serangan penyakit ini menimbulkan bintik-bintik ungu kemerah-merahan atau kecoklatan yang akhirnya menyatu. Penyakit blight daun dapat menyerang pembibitan maupun tanaman dewasa. Kultivar yang resisten belum diketahui.
  3. Puccinia purpurea Cooke. Penyakit karat sering terjadi secara luas pada sorgum tetapi pertumbuhan penyakit tidak berlangsung lagi apabila tanaman sorgum telah mencapai dewasa.
  4. Atherigona varia Soccata (Rond.) Atau (Lalat Bibit Sorgum).
    Hama ini merupakan hama yang utama di daerah tropis. Prinsip pengendaliannya adalah dengan penanaman pada waktunya (tanam serempak) dan menanam kultivar yang mempunyai kemampuan memulihkan luka setelah diserang.
  5. Prodenia Litura F. (Ulat daun).

Semua hama penyakit di atas pengendaliannya dengan menggunakan insektisida dengan jenis dan dosis yang dianjurkan.

 

VIII.  PANEN  DAN  PASCA   PANEN  TANAMAN  SORGUM

  1. PANEN

       Tanaman sorgum sudah dapat dipanen pada umur 3-4 bulan tergantung varietasnya yang ditanam. Penentuan saat panen  dapat dilakukan dengan berpedoman pada umur setelah biji terbentuk  atau dengan melihat chiri-chiri visual biji yakni kita melihat biji yang terdapat paling bawah bulir, dimana setelah membuka kelopak biji pada bagian bawah biji sudah terdapat ada bintik atau titik berwarna hitam, maka bulir sorgum tersebut sudah memasuki vase masak fisiologisnya sehingga  sudah dapat dipanen. Pemanenan juga dapat dilakukan setelah melihat adanya chiri-chiri seperti daun telah berwarna hijau tua sebelum menuju ke warna kuning dan mengering,  biji-biji bernas dan keras serta berkadar tepung maksimal. Keadaan daun tanaman sorgum yang demikian dimaksudkan agar batang  dan daun sorgum setelah ditebang  untuk  diratun (budidaya  lanjutan), dapat diberikan kepada ternak rumenansia karena masih mengandung  zat gizi yang tinggi  bagi ternak tersebut.

       Cara  panen  dengan  memotong  tangkai bulir  tepat di bawah dekat dengan cincin yang   melingkar pada tangkai bulir, kemudian dijemur.

 

  1. PASCA PANEN 
  2. Perontokan.

       Untuk merontokkan biji sorgum dapat menggunakan mesin  threser (Mesin Perontok    Padi  ataupun  Jagung)  atau  dengan dipukul – pukulkan  di  atas  terpal  atau  tikar  anyam.  Selanjutnya  biji  sorgum  dikeringkan  serta  dibesihkan  dari  kulit  arinya. Bagi  penderita  suatu penyakit misalnya:  Kista  Rahim, Kanker  Rahim  maupun  Tumor  Rahim  yang  mengkonsumsi  beras  sorgum sebagai obat, maka kulit ari sorgum jangan dibersihkan karena justru pada kulit ari tersebutlah khasiatnya  sebagai obat.

  1. Pengeringan.

       Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran selama ± 60 jam (10 hari berturut-turut) hingga kadar air biji mencapai 10 - 12 %. Masa depan (Faktor  Penentu) mutu produk sorgum yang akan disimpan untuk dikonsumsi sebagai makanan pokok pengganti beras (kalau bisa minimal 50 % dari produksi yang dihasilkannya), sisanya  akan dipasarkan ataupun yang akan dijadikan sebagai benih sangat ditentukan oleh kadar air yang terkandung di dalamnya. Maka sangat diharapkan  agar para pelaku utama  (petani sorgum) harus  disiplin sesuai petunjuk teknis  dalam melakukan proses penjemuran ini.

  1. Penyimpanan.

           Bila biji disimpan dalam ruangan khusus penyimpanan (gudang), maka tinggi gudang harus sama dengan lebarnya supaya kondensasi uap air dalam gudang tidak mudah timbul. Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan yang padat sehingga perubahan suhu yang terjadi pada biji dapat dikurangi. Tidak dianjurkan ruang penyimpanan dari bahan besi, karena sangat peka terhadap perubahan suhu. Sebelum disimpan biji sorgum harus kering, bersih dan utuh  (tidak pecah).

 

  1. BUDIDAYA  LANJUTAN

               Untuk meningkatkan produksi sorgum dapat dilakukan budidaya lanjutan dengan cara ratun yaitu pemangkasan batang tanaman pada musim panen pertama yang dilanjutkan dengan pemeliharaan tunas – tunas baru pada periode kedua. Adapun tatacara budidaya sorgum ratun setelah panen musim pertama adalah sebagai berikut :

  1. Setelah panen pertama segera dilakukan pemotongan batang yang tua tepat di atas tanah.
  2. Tanah di sekitar sorgum dibersihkan dari rumput liar dan gulma.
  3. Dibuatkan larikan kecil sejauh 10-15 cm dari pangkal batang tanaman sorgum kemudian disebarkan pupuk yang terdiri dari 45 kg Urea + 100 kg TSP + 50 kg KCL per hektar. Satu bulan kemudian diberikan pupuk susulan berupa 90 kg Urea/ha. Lebih dianjurkan menggunakan pupuk organik sesuai petunjuk penyuluh lapangan.
  4. Tanaman yang berasal dari tunas-tunas baru (ratun) dipelihara dengan baik seperti pada pemeliharaan tanaman periode pertama. Pada stadium buah tua dilakukan panen musim kedua. Pemotongan harus tepat dilakukan di atas permukaan tanah agar tunas-tunas baru tumbuh dari bagian batang yang berada pada dalam tanah.

 

 Penulis :Bernadus Belawa Koten,SST/BPP Rin Lema Kecamatan Lewolema Flores Timur NTT

Komentar